Kamis, 23 April 2015

SUBJECT, VERB, COMPLEMENT, AND MODIFIER

A normal sentence consists of at least one subject and one predicate. The predicate is the part of the sentence that has the main verb, and tells what the subject did, has done, is doing, or describes the subject. Predicate may also contain a complement and a modifier. Modifier itself may contain a direct object in form of noun phrase, noun clause, or prepositional phrase.

A.    Subject

The subject is the cause, agent, person or thing doing the action. It usually takes form as a noun phrase with a head noun, a determiner and possibly some modifiers. It may also take form as a phrase or a clause. The characteristics of a subject in a sentence :

1.      A subject can be a word or a phrase
2.      A subject is a noun (a person or a thing) or its pronoun
3.      A subject can be singular (a person or a thing)
4.      A subject can be plural (persons or things)
5.      Normally a subject preceedes a verb

Plural and Singular Subject
It is a must to identify whether a subject of a sentence plural or singular. In an English sentence, a sigular subject uses a singular verb and a plural subject uses a plural verb, which is called subject and verb agreement.

Example :
I was very busy last night. -> singular subject
(Hujan sangat lebat tadi malam. -> saya  sebagai subjek tunggal)

Students are not going to the dance party tomorrow. -> plural subject
(Para siswa tidak akan pergi ke pesta dansa itu besok. -> Para siswa sebagai subjek jamak)
  
B.     Verb

In a simple sentence, a verb usually comes after the subject. It can be a word or a phrase which contains a simple form of verb, an adverb, a modal or an auxiliary. The form of a verb must agree with the form of the subject. A singular subject uses a singular verb and a plural subject uses a plural verb. The agreement applies particularly for Simple Present Tense and the sentences which use be (am, are, is) or (have, has) as a main or as a helping verb.

Example :

Nadia is a very smart girl. (Nadia adalah seorang gadis yang cerdas)
They will be here this evening. (Mereka akan berada di sini nanti sore)
He has been a teacher since last year. (Dia sudah menjadi guru sejak tahun lalu)

Table – Singular and Plural Verbs
  
Characteristic
Treatment
Plural
Singular
Indonesia
The last letter is “h”
or
vowel except “e”

huruf terakhir “h”
atau
huruf hidup kecuali “e” (kalau “e” hanya tambah “s”)

Add “es”


Tambahkan “es”
do
go
forego
catch
touch
punch
slash
screech
stretch
pitch
does
goes
foregoes
catches
touches
punches
slashes
screeches
stretches
pitches
melakukan
pergi
mendahului pergi
menangkap
menyentuh
meninju
meringis
melengking(suara)
membentangkan
menembak/melempar sasaran
The last letter is “e”

Huruf terakhir “e”
Add “s”

Tambahkan “s”
drive
hate
make
nurse
raise
rise
take
drives
hates
makes
nurses
raises
rises
takes
mengendarai
benci/enggan
membuat
merawat/memelihara
membesarkan
bangkit/terbit
mengambil
The last letter is “y” preceeded by a consonant

Huruf terakhir “y” didahului huruf mati
Change “y” to “ies”



Ganti “y” menjadi“ies”
try
cry
fry
dry
carry
accompany
bury
comply
deny
aplly
tries
cries
fries
dries
carries
accompanies
buries
complies
denies
applies
mencoba
menangis
menggoreng
mengeringkan
membawa
menemani
mengubur
mematuhi(aturan)
menyangkal
menerapkan

The last letter “y” preceeded by vowel

Huruf terakhir”y” didahului huruf hidup
Add “s”

Tambahkan “s”
stay
lay
pay
pray
delay
convey
convoy
stays
lays
pays
prays
delays
conveys
convoys
tinggal
meletakkan
membayar
berdoa
menunda
menyerahkan
mengiringi/beriringan
The last letter is a consonant

Huruf terakhir huruf mati
Add “s”


Tambahkan “s”
pack
read
put
screw
tear
break
jump
packs
reads
puts
screws
tears
breaks
jumps
kemas
baca
meletakkan
mengobeng
merobek
memecah
melompat



C. Complement

A complement is one or more elements required by the subject or verb to complete the meaning of the sentence. It may be a direct object (He gave a gift.), an indirect object (He gave me a gift.), a predicative complement (He is good.) or some other element.

D. Modifier

Modifiers are words or phrases that give additional detail about the subject discussed in a sentence. Since these words enhance the reception of a sentence, they tend to be describing words such as adjectives and adverbs. In addition, phrases that modify tend to describe adjectives and adverbs, such as adjective clauses and adverbial phrases.

Example to all :



Subject
Verb
Complement
Modifier
We
have
a meeting
this afternoon
Kami ada rapat siang ini
She
has
a cat
at home
Dia punya seekor kucing di rumah
Nobody
want
you to leave
today
Tidak seorang pun meninginkan kamu pergi hari ini
The lawyer
asked him
to sign a statement
this morning
Pengacara itu meminta dia menandatangani satu pernyataan tadi pagi
He
likes
to drive
in a desert
Dia senang mengemudi di gurun




Exercise
Identify the subject, verb, complement, and modifier in each of the following sentence.

1.  You shall be at home before dinner
2.  He goes to campus by motorcycle
3.  The car has two seat belts on the front seats
4.  Talking to a stranger may not comfortable
5.  Susi’s hobby is swimming in a beach

Answer

1.  You / shall be / at home / before dinner.
(subject) / (verb) / (modifier of place) / (modifier of time)

2.  He / goes / to campus by motorcycle.
(subject) / (verb) / (complement)

3.  The car / has / two seat belts / on the front seats.
(subject) / (verb) / (complement) / (modifier)

4.  Talking to a stranger / may / not comfortable.
subject (gerund) / (verb) / (complement)

5.  Susi’s hobby / is / swimming / in a beach.
(subject) / (verb) / (complement) / (modifier of place)




Source :

Sihombing, Binsar. English Grammar Comprehension. Jakarta : Grasindo (link)
http://www.grammar-quizzes.com/sent-subjpred.html



Kamis, 25 Desember 2014

KRITERIA DAN CIRI-CIRI KARANGAN ILMIAH



A. Definisi Karangan
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
B.  Jenis-jenis Karangan dan Ciri-cirinya
1. Karangan Narasi
Karangan narasi ialah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa yang biasanya disusun  menurut  urutan  waktu. Yang termasuk narasi ialah cerpen, novel, roman, kisah perjalanan, biografi, otobiografi. 
Ciri-ciri/karakteristik karangan Narasi :
  • Menyajikan serangkaian berita atau peristiwa 
  • Disajikan dalam urutan waktu serta kejadian yang menunjukkan peristiwa awal sampai akhir 
  • Menampilkan pelaku peristiwa atau kejadian
  •  Latar (setting) digambarkan secara hidup dan terperinci
2.   Karangan Deskripsi
Karangan Deskripsi ialah karangan yang menggambarkan atau melukiskan sesuatu seakan-akan pembaca melihat, mendengar, merasakan, mengalaminya sendiri.
Ciri-ciri / karakteristik karangan deskripsi :
  • Melukiskan atau menggambarkan suatu objek tertentu 
  • Bertujuan untuk menciptakan kesan atau pengalaman pada diri pembaca agar seolah-olah mereka melihat, merasakan, mengalami atau mendengar, sendiri suatu objek yang  dideskripsikan 
  • Sifat penulisannya objektif karena selalu mengambil objek tertentu, yang dapat berupa  tempat, manusia, dan hal yang dipersonifikasikan 
  • Penulisannya dapat menggunakan cara atau metode realistis (objektif), impresionistis (subjektif), atau sikap penulis
3.   Karangan Eksposisi
Karangan Eksposisi adalah bentuk karangan yang memaparkan, memberi keterangan, menjelaskan, memberi informasi sejelas-jelasnya mengenai suatu hal.
Ciri-ciri/karakteristik karangan Eksposisi :
  • Menjelaskan informasi agar pembaca mengetahuinya 
  • Menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (data faktual)
  •  Tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak 
  • Menunjukkan analisis atau penafsiran secara objektif terhadap fakta yang ada
  •  Menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu
4.   Karangan Persuasi
Karangan Persuasi adalah karangan yang tujuannya untuk membujuk pembaca agar mau mengikuti kemauan atau ide penulis disertai alasan bukti dan contoh konkrit.
  
5.   Karangan Argumentasi 
Karangan Argumentasi adalah karangan yang isinya bertujuan meyakinkan atau mempengaruhi pembaca terhadap suatu masalah dengan mengemukakan alasan, bukti, dan contoh nyata. 
Ciri-ciri/karakteristik karangan Argumentasi :
  • Berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan pengarang sehingga kebenaran itu diakui oleh pembaca 
  • Pembuktian dilengkapi dengan data, fakta, grafik, tabel, gambar 
  • Dalam argumentasi pengarang berusaha  mengubah sikap, pendapat atau pandangan pembaca 
  • Dalam membuktikan sesuatu, pengarang menghindarkan keterlibatan emosi dan menjauhkan subjektivitas 
  • Dalam membuktikan kebenaran pendapat pengarang, kita dapat menggunakan bermacam-macam pola pembuktian
C. Perbedaan Karangan Ilmiah dan Non-Ilmiah
1. Karangan Ilmiah
Menurut Brotowidjoyo, karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuanyang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).
Karangan Ilmiah atau yang sering disebut karya ilmiah adalah karangan yang dibuat berdasarkan cara yang sistematis dan memiliki ciri-ciri tertentu. Demikian juga karangan non ilmiah memiliki ciri khasnya tersendiri. Lalu bagaimana membedakan satu sama lainnya, di dalam tulisan ini akan dijelaskan bagaimana membedakan antara semua jenis karangan tersebut.
Hal-hal yang harus ada dalam karya ilmiah antara lain:
1.      Karya tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
2.      Keindahan karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang menyangganya.
3.      Alur pikir dituangkan dalam sistematika dan notasi.
4.      Karya tulis ilmiah terdiri dari unsur-unsur: kata, angka, tabel, dan gambar,yang tersusun mendukung alur pikir yang teratur.
5.      Karya tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkandung dalam hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah kebahasaan.
6.      Karya tulis ilmiah terdiri dari serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi(paparan), deskripsi (lukisan) dan argumentasi (alasan).
Ciri – Ciri Karya Ilmiah:
Dalam karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi karakteristik utamanya, yaitu :
a. struktur sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
b. komponen dan substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
c. sikap penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.
d. penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Selain ciri-ciri diatas karangan ilmiah juga mempunyai ciri-ciri, antara lain:
·         Kejelasan. Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.
·         Kelogisan. Artinya keterangan yang dikemukakan masuk akal.
·         Kelugasan. Artinya pembicaraan langsung pada hal yang pokok.
·         Keobjektifan. Artinya semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.
·         Keseksamaan. Artinya berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya.
·         Kesistematisan. Artinya semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan.
·         Ketuntasan. Artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.
Macam – macam karangan ilmiah:
Ada berbagai macam karangan ilmiah, berikut diantaranya :
·         Laporan penelitian. Laporan yang ditulis berdasarkan penelitian. Misalnya laporan penelitian yang didanai oleh Fakultas dan Universitas, laporan ekskavasi arkeologis yang dibiayai oleh Departemen Kebudayaan, dsb.
·         Skripsi. Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik sarjana strata satu (Si).
·         Tesis. Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik strata dua (S2), yaitu Master.
·         Disertasi. Tulisan ilmiah untuk mendapat gelar akademik strata tiga (S3), yaitu Doktor.
·         Surat pembaca. Surat yang berisi kritik dan tanggapan terhadap isi suatu tulisan ilmiah.
·         Laporan kasus. Tulisan mengenai kasus-kasus yang ada yang dilandasi dengan teori.
3. Karangan Non Ilmiah
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri Karya Tulis Non-Ilmiah:
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
  • Fakta yang disimpulkan subyektif.
  • Gaya bahasa konotatif dan populer.
  • Tidak memuat hipotesis.
  • Penyajian dibarengi dengan sejarah.
  • Bersifat imajinatif.
  • Situasi didramatisir.
  • Bersifat persuasif.
  • Tanpa dukungan bukti.
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah adalah dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman.
D. Kriteria Metode Ilmiah
Penelitian dianggap sebagai kegiatan ilmiah lantaran memakai metode keilmuan, yaitu merupakan gabungan antara pendekatan rasional dan pendekatan empiris, pendekatan rasional mengedepankan kerangka pemikiran yang koheren serta logis, sementara pendekatan empiris merupakan kerangka pengujian didalam memastikan suatu kebenaran.(Menurut Ahmad Syafi’i mufid), Metode ilmiah ialah suatu usaha untuk mencari jawaban mengenai fakta-fakta dengan menggunakan kesangsian yang sistematis. Supaya suatu metode yang dipakai dalam hal  penelitian disebut  sebagai metode ilmiah, maka metode tersebut harus memiliki  kriteria sebagai berikut ini:
Berdasarkan Fakta
Keterangan-keterangan ataupun  penjelasan-penjelasan  yang ingin diperoleh dalam hal  penelitian, baik yang akan dikumpulkan  lalu kemudian    dianalisa haruslah berdasarkan   fakta-fakta serta  data  yang  nyata. Janganlah penemuan dan pembuktian itu didasar-kan pada daya khayal dan   kira-kira ataupun  legenda-legenda maupun  kegiatan  yang sejenis itu.

Bebas dari Prasangka
Metode ilmiah harus memiliki  sifat bebas dari  prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan yang subjektif. Mennggunakan  suatu fakta harus dengan alasan dan bukti yang lengkap serta dengan pembuktian yang objektif.

Menggunakan Prinsip Analisa
Dalam memahami serta memberikan  arti terhadap fenomena yang  sangat kompleks, haruslah  menggunakan  prinsip analisa. Seluruh  masalah harus dicari sebab-musababnya  serta cara pemecahannya dengan memakai  analisa yang masuk akal , Fakta yang mendukung jangan  dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibikin  deskripsinya saja. Akan Tetapi seluruh kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.

Menggunakan Hipotesa
Dalam metode ilmiah, peneliti itu  harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk memecahkan suatu  persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang  hendak  dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran secara  tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran  sang peneliti.

Menggunakan Ukuran Obyektif
Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang memang  objektif. Ukuran tidak boleh didapat hanya berdasarkan  merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibikin secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang sadar.

Menggunakan Teknik Kuantifikasi
Dalam memperlakukan data ukuran yang besifat  kuantitatif yang biasa  harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus senantiasa  digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya Kuantifikasi yang termudah adalah dengan memakai ukuran nominal, ranking dan rating.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan  dalam metode ilmiah sebgai berikut
  • Memilih dan mendefinisikan masalah 
  • Survey pada data yang tersedia 
  • Mempormulasikan hipotesis 
  • Membangun kerangka analisis 
  • Mengumpulkan data primer 
  • Mengolah,menganalisis dan membuat interpretasi (penapsiran) 
  • Membuat generelasi atau membuat kesimpulan 
  • Membuat laporan dari penelitian
 
Langkah-langkah diatas dilakukan untuk mencapai atau memperoleh jawaban-jawaban dari berbagai objek penelitian yang kita teliti, supaya hasil jawaban itu bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuwan berlandasakan prosedur yang sudah disepakati oleh para peneliti,meskipun nanti jawaban yang diperoleh bisa diterima dan dimanfaatkan atau dipergunakan, atau di tolak maka penolakan hasil dari sebuah penelitian harus dibantah dengan berdasrkan pada langkah-langkah penelitian juga.

Menurut para ilmuwan bahwa agama juga merupakan bagian objek kajian atau penelitian karena merupakan kehidupan sosial kultural,jadi penelitian agama itu  bukanlah meneliti  tentang hakikat agama dalam arti wahyu melainkan meneliti manusia yang menghayati,  dan meyakini serta memperoleh pengaruh dari agama. Dengan memakai  ungkapan  lain penelitian agama bukan meneliti mengenai  kebenaran teologi atau filosofi tetapi bagaimana agama itu ada dalam kebudayaan dan sistem sosial berdasarkan fakta atau realitas sosio-kurtural.



E.  Sikap Ilmiah
Sikap Ilmiah adalah suatu sikap yang menerima pendapat orang lain dengan baik dan benar yang tidak mengenal putus asa serta dengan ketekunan juga keterbukaan.  Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah untuk dapat melalui proses penelitian yang baik dan hasil yang baik pula.  Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah, misalnya dalam seminar, diskusi, loka karya, sara sehan, dan penulisan karya ilmiah.


Metode Ilmiah didasari oleh adanya sikap ilmiah.  Sikap-sikap ilmiah tersebut meliputi :

  • Obyektif terhadap fakta
  • Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang mendukung kesimpulan itu.
  • Berhati terbuka artinya menerima pandangan atau gagasan orang lain. 
  • Tidak mencampur adukkan fakta dengan pendapat.  
  • Bersikap hati-hati. 
  • Sikap ingin menyelidiki atau keingintahuan (couriosity) yang tinggi.  
  • Sikap menghargai karya orang lain. 
  • Sikap tekun.  
  • Sikap berani mempertahankan kebenaran. 
  • Sikap menjangkau ke depan. 

Didalam melakukan penelitian atau pengamatan tidak terlepas dari kegiatan atau eksperimen.  Eksperimen sangat menarik, tetapi sekaligus membahayakan.  Untuk itu, kita perlu mempunyai sikap dalam melakukan pengamatan supaya dalam bereksperimen dapat berjalan dengan baik.

Metode Ilmiah menggunakan langkah-langkah yang sistematis dan terkontrol.  Pelaksanaan metode ilmiah ini meliputi enam tahap, yaitu  :
  • Mengadakan penelitian lalu merumuskan masalah
  •  Mengumpulkan data- data atau keterangan yang ada
  •  Menyusun hipotesis atau hipotesa
  •  Menguji hipotesis atau hipotesa dengan melakukan percobaan atau penelitian
  •  Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan   kesimpulan
  •  Menguji kesimpulan
SUMBER: